Rabu, 03 April 2013

Asuhan Keperawatan Jiwa dengan Gangguan Citra Tubuh



KEPERAWATAN JIWA I
RESPONS KONSEP DIRI dan KELAINAN DISOSIASI :
GANGGUAN CITRA TUBUH



POLITEKNIK BARU.JPG
 











OLEH :
·     BRILIAN SAMUEL DEHES
·     JULIANA DEWI ANJANI
·     MONIKA SELPIYA
KEPERAWATAN REGULER XIV A


KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN PALANGKA RAYA
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2012 - 2013
Kasus
Tn/Ny 35 tahun wiraswasta sukses, 6 bulan yang lalu kerugian besar dan bangkrut. Sejak saat itudia sering mengurung diri, nafsu makan tidak ada, sulit tidur, suka mengeluh nyeri dada dan mengeluh sesak nafas. Dari hasil pemeriksaan dokter Tn/Ny tersebut mengalami goncangan emosi.


RESPONS KONSEP DIRI dan KELAINAN DISOSIASI
Gangguan citra tubuh, ideal diri, harga diri, penampilan peran, dan identitas personal, termasuk ke dalam pokok bahasan masalah respons konsep diri dan kelainan disosiasi.
Konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Konsep – diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil dari pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan relaitas dunia. Salah satu komponen konsep diri yang akan dibahas dalam kasus ini adalah Gangguan Citra tubuh.
Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi. Yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan persepsi dan pengalaman yang baru.
Citra tubuh merupakan komponen dari konsep diri yang dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik.

Kepribadian yang sehat
Individu dengan kepribadian yang sehat akan mengalami hal – hal berikut:
1.       Citra tubuh yang positif dan sesuai.
2.       Ideal diri yang realistik.
3.       Konsep diri yang positif.
4.       Harga diri yang tinggi.
5.       Penampilan peran yang memuaskan.
6.       Rasa identitas yang jelas.

Faktor predisposisi
Berbagai faktor yang menunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri seseorang. Faktor ini dapat dibagi sebagai berikut :
1.       Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak relaistis, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain, dan ideal diri yang tidak relaistik.
2.       Faktor yang mempengaruhi penampilan peran adalah stereotipe peran seks, tuntutan peran kerja, dan harapan peran kultural.
3.       Faktor yang mempengaruhi identitas personal meliputi ketidakpercayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan dalam struktur sosial.
preview_html_m520e919b.pngGAMBAR 1 Rentang respons konsep diri, sumber : www.google.co.id






Stresor pencetus
Stresor pencetus mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal :
1.       Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan.
2.       Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalaminya sebagai frustasi. Ada tiga jenis transisi peran :
§  Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma – norma budaya, nilai – nilai dan tekanan untuk penyesuaian diri.
§  Transisi peran situasi terjadi dengna bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kehiran dan kematian.
§  Transisi peran sehat – sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaa sehat ke keadaan sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh :
Ø  Kehilangan bagian tubuh
Ø  Perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh
Ø  Perubahan fisik berhubungan dengan tumbuh kembang normal
Ø  Prosedur medis dan keperawatan


A.      Gangguan Citra Tubuh
1.       Pengertian
Citra tubuh merupakan komponen dari konsep diri yang dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik. Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya, termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi. Gangguan citra tubuh adalah perasaan tidak puas terhadap perubahan bentuk, struktur dan fungsi tubuh karena tidak sesuai dengan yang diinginkan.

2.       Etiologi
Kondisi  Patofisiologi dan Psikopatologis dan prosedur terapeutik yang dapat menimbulkan gangguan citra tubuh :
Eksisi bedah atau gangguan bagian tubuh
·         enterostomi
·         mastaktomi
·         histerektomi
·         pembedahan kardiovaskuler
·         pembedahan leher radikal
·         laringektomi
Amputasi pembedahan atau traumatik
Luka bakar
Trauma wajah
Gangguan makan
·         anoreksia nervosa
·         bulimia
Obesitas
Gangguan muskuluskeletal
·         atritis
Gangguan integumen
·         Psoriasis
·         Skar sekunder akibat trauma atau pembedahan
Lesi otak
·         Cerebrovaskular accident
·         Demensia
·         Penyakit parkinson
Gangguan afektif
·         Depresi
·         Skizofrenia
Gangguan endokrin
·         Akromegali
·         Sindroma chusing
Penyalahgunaan bahan kimia
Prosedur diagnostik
Kehilangan atau pengurangan fungsi
·         Impotensi
·         Pergerakan/kendali
·         Sensori/persepsi
·         Memori
Terapi modalitas
·         Teknologi tinggi (misalnya impian defibrilator, prostesis sendi, dialisis)
·         Kemoterapi
Nyeri
Perubahan psikososial atau kehilangan
·         Perubahan volunter atau dipaksakan dalam peran bekerja atau sosial
·         Dukungan orang terdekat
·         Perceraian
·         Kepemilikan pribadi (rumah, perlengkapan rumah tangga, keuangan)
·         Translokasi/relokasi
Respon masyarakat terhadap penuaan   (agetasim)
·         Umpan balik interpersonal negatif
·         Penekanan pada produktivitas
Defisit pengetahuan (personal, pemberi asuhan, atau masyarakat)

3.       Klasifikasi NOC
Data Objektif :
a.       Mengurung diri
b.      Dari hasil pemeriksaan dokter pasien mengalami Goncangan Emosi.
c.       Hilangnya bagian tubuh.
d.      Perubahan anggota tubuh baik bentuk maupun fungsi.
e.      Menyembunyikan atau memamerkan bagian tubuh yang terganggu.
f.        Menolak melihat bagian tubuh.
g.       Aktifitas sosial menurun.

Data Subyektif :
a.       Nafsu makan tidak ada.
b.      Sulit tidur
c.       Pasien suka mengeluh nyeri di dada.
d.      Pasien mengeluh sesak nafas.
e.      Menolak perubahan anggota tubuh saat ini, misalnya tidak puas dengan hasil operasi.
f.        Mengatakan hal negatif tentang anggota tubuhnya yang tidak berfungsi.
g.       Mengungkapkan perasaan tidak berdaya, tidak berharga, keputusasaan.
h.      Menolak berinteraksi dengan orang lain.
i.         Mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi terhadap bagian tubuh yang terganggu.
j.        Sering mengulang-ulang mengatakan kehilangan yang terjadi.
k.       Merasa asing terhadap bagian tubuh yang hilang.

4.       Intervensi berdasarkan NIC dan kriteria hasil berdasarkan NOC
Individu :
a.       Tujuan dan kriteria hasil
1)      Pasien dapat mengidentifikasi citra tubuhnya.
2)      Pasien dapat mengidentifikasi potensi ( aspek positif ) dirinya.
3)      Pasien dapat mengetahui cara-cara untuk meningkatkan citra tubuh.
4)      Pasien dapat melakukan cara-cara untuk meningkatkan citra tubuh.
5)      Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain tanpa terganggu.
b.      Tindakan Keperawatan
1)      Diskusikan persepsi pasien tentang citra tubuhnya : dulu dan saat ini, perasaan tentang citra tubuhnya dan harapan terhadap citra tubuhnya saat ini.
2)      Diskusikan potensi bagian tubuh yang lain.
3)      Bantu pasien untuk meningkatkan fungsi bagian tubuh yang terganggu.
4)      Ajarkan pasien meningkatkan citra tubuh dengan cara :
a)      Gunakan protese, wig, kosmetik atau yang lainnya sesegera mungkin, gunakan pakaian yang baru.
b)      Motivasi pasien untuk melihat bagian yang hilang secara lengkap.
c)       Bantu pasien menyentuh bagian tersebut.
d)      Motivasi pasien untuk melakukan aktifitas yang mengarah pada pembentukan tubuh yang ideal.
5)      Lakukan interaksi secara bertahap dengan cara :
a)      Susun jadwal kegiatan sehari-hari.
b)      Dorong melakukan aktifitas sehari-hari dan terlibat dalam aktifitas keluarga dan sosial.
c)       Dorong untuk mengunjungi teman atau orang lain yang berarti/mempunyai peran penting baginya.
d)      Beri pujian terhadap keberhasilan pasien melakukan interaksi.

Keluarga :
a.       Tujuan dan kriteria hasil
1)      Keluarga dapat mengenal masalah gangguan citra tubuh.
2)      Keluarga mengetahui cara mengatasi masalah gangguan citra tubuh.
3)      Keluarga mampu merawat pasien gangguan citra tubuh.
4)      Keluarga mampu mengevaluasi kemampuan pasien dan memberikan pujian atas keberhasilannya.

b.      Tindakan Keperawatan
1)      Jelaskan dengan keluarga tentang gangguan citra tubuh yang terjadi pada pasien.
2)      Jelaskan kepada keluarga cara mengatasi masalah gangguan citra tubuh.
3)      Ajarkan kepada keluarga cara merawat pasien :
a)      Menyediakan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pasien dirumah.
b)      Memfasilitasi interaksi di rumah.
c)       Melaksanakan kegiatan di rumah dan sosial.
d)      Memberikan pujian atas kegiatan yang telah dilakukan pasien.
4)      Ajarkan kepada keluarga untuk mengevaluasi perkembangan kemampuan pasien seperti pasien mampu menyentuh dan melihat anggota tubuh yang terganggu, melakukan aktifitas di rumah dan di masyarakat tanpa hambatan.
5)      Beri pujian yang realistis terhadap keberhasilan keluarga.
6)      TAK : stimulasi persepsi HDR.

4.       Intervensi Spesialis
a.       Terapi Individu            :     Terapi CBT, terapi kognitif.
b.      Terapi Keluarga           :     Family system therapy, terapi komunikasi.
c.       Terapi Kelompok        :     Logoterapi, terapi supportif.
d.      Terapi Komunitas       :     Psikoedukasi.

5.       Implementasi
Tindakan terhadap Perubahan Konsep Diri ( Gangguan Citra Tubuh )
Intervensi keperawatan membantu pasien memeriksa penilaian kognitif dirinya terhadap situasi yang berhubungan dengan perasaan untuk membantu pasien meningkatkan penghayatan diri dan kemudian melakukan tindakan untuk mengubah perilaku. Pendekatan penyelesaian masalah ini memerlukan tingkat intervensi yang progresif, sebagai berikut :
a.       Meluaskan kesadaran diri
b.      Eksplorasi diri
c.       Evaluasi diri
d.      Perencanaan yang realistik
e.      Komitmen terhadap tindakan

Tabel 1.1              Intervensi keperawatan untuk mengubah konsep diri pada Tingkat 1
Prinsip
Rasional
Intervensi Keperawatan
Tujuan : Meluaskan Kesadaran Diri Pasien
Bina hubungan terbuka, saling percaya.






Bekerja dengan pasien bagaimanapun kekuatan egonya.





















Maksimalkan peran serta pasien dalam hubungan terapeutik.
Kurangi ancaman yang terlihat dalam sikap perawat terhadap pasien, bantu pasien untuk meluaskan dan menerima semua aspek kepribadian.



Kekuatan ego tingkat tertentu, seperti kapasitas untuk uji realitas, kontrol diri, atau tingkat integritas ego, dibutuhkan sebagai dasar asuhan keperawatan kemudian.

















Timbal balik diperlukan bagi pasien untuk menerima tanggung jawab terhadap perilaku dan respons kopinnya yang maladaptif.
Tawarkan penerimaan tanpa syarat.
Dengarkan pasien.
Dukung pembahasan tentang pikiran dan perasaan pasien.
Berespons tanpa mendakwa.
Sampaikan bahwa pasien adalah seorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.

Identifikasi kekuatan ego pasien.
Pedoman bagi pasien dengan sumber ego yang terbatas :
1.       Mulai dengan meyakinkan identitas pasien.
2.       Berikan dukungan untuk mengurangi tingkat ansietas panik.
3.       Dekati pasien dengan cara tidak menuntut.
4.       Terima dan upayakan klarifikasi komunikasi verbal dan nonverbal.
5.       Cegah pasien dari pengisolasian diri.
6.       Bina rutinitas yang sederhana bagi pasien.
7.       Tetapkan batasan untuk perilaku yang tidak tepat.
8.       Orientasi pasien terhadap realitas.
9.       Kuatkan perilaku yang sesuai.
10.   Tingkatkan aktifitas dan tugas yang dapat memberikan pengalaman positif secara bertahap.
11.   Bantu dalam kebersihan dan kecantikan diri.
12.   Dukung pasien dalam asuhan mandiri.

Tingkatkan peran serta pasien secara bertahap dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan asuhan dirinya.
Sampaikan bahwa pasien adalah individu yang bertanggung jawab.






Tabel 1.2              Intervensi keperawatan untuk mengubah konsep diri  Tingkat 2
Prinsip
Rasional
Intervensi Keperawatan
Tujuan : Mendukung Eksplorasi Diri Pasien
Bantu pasien untuk menerima perasaan-perasaan dan pikiran – pikirannya.





Bantu pasien mengklarifikasi konsep diri dan hubungan dengan orang lain melalui pengungkapan diri.

Waspada dan kendalikan perasaan anda sendiri.






Berespons empatik, bukan simpatik, tekankan bahwa kekuatan untuk berubah berada pada pasien.
Dengan menunjukkan minat dan penerimaan terhadap perasaan dan pikiran pasien, perawat membantu pasien untuk melakukan hal yang sama.



Pengungkapan diri dan pemahaman terhadap persepsi diri diperlakukan untuk membawa perubahan yang akan datang; pengungkapan diri dapat mengurangi ansietas.
Kesadaran diri memungkinkan perawat memberikan model perilaku autentik dan membatasi pengaruh negatif kontertransferens dalam hubungan.



Simpati dapat menimbulkan rasa kasihan pasien; sebaliknya, perawat harus mengkomunikasikan bahwa situasi kehidupan pasien memerlukan kendali diri.
Dukung ekspresi emosi, keyakinan, perilaku, dan pikiran pasein-secara verbal, nonverbal, simbolik, atau langsung.
Gunakan keterampilan komunikasi terapeutik dan respon empati.
Catat penggunaan pemikiran logik dan tidak logik pasien serta laporkan dan amati respon emosinya.

Bangkitkan persepsi pasien tentang kelebihan dan kekurangan diri yang dimiliki.
Bantu pasien untuk menguraikan ideal diri.
Identifikasi kritik diri pasien.
Bantu pasien untuk menguraikan keyakinan tentang bagaimana ia berhubungan dengan orang lain dan dengan peristiwa.
Terbuka terhadap perasaan anda sendiri.
Terima perasaan positif dan negatif.
Gunakan diri secara terapeutik dengan :
1.       Berbagi perasaan anda dengan pasien.
2.       Mengungkapkan tentang apa yang mungkin orang lain rasakan.
3.       Mencerminkan persepsi anda terhadap perasaan pasien.

Gunakan respons empatik dan pantau diri anda terhadap perasaan simpati dan kasihan.
Tegaskan bahwa pasien bukan tidak berdaya atau tak kuasa dalam menghadapi masalah.
Tunjukkan pada pasien baik secara verbal maupun melalui perilaku bahwa pasien bertanggung jawab terhadap perilakunya sendiri, termasuk memilih respon koping yang adaptif dan maladaptif.
Gunakan sistem pendukung dari keluarga dan kelompok untuk memfasilitasi eksplorasi diri pasien.
Bantu pasien dalam mengenali sifat konflik dan respon koping maladaptif.

Tabel 1.3                    Intervensi Keperawatan terhadap perubahan konsep diri  Tingkat 3
Prinsip
Rasional
Intervensi Keperawatan
Tujuan : Membantu Evaluasi Diri Pasien
Bantu pasien untuk menjabarkan masalah secara jelas.









Gali respons adaptif  dan maladaptif pasien terhadap masalah.
Hanya setelah masalah dujabarkan dengan benar, pilihan alternatif dapat diusulkan.








Penggalian koping tersebut penting untuk memeriksa pilihan koping pasien dan mengevaluasi akibat positif dan negatif.
Identifikasi stresor yang relevan dan penilaian pasien terhadap stresor.
Klarifikasi bahwa keyakinan pasien mempengaruhi perasaan dan perilakunya.
Identifikasi bersama keyakinan yang salah, persepsi yang tidak benar, ilusi dan tujuan yang tidak realistik.
Identifikasi bersama area kekuatan.
Tempatkan konsep keberhasilan dan kegagalan dalam pandangan yang sesuai.
Gali penggunaan sumber koping pasien.

Uraikan kepada pasien bahwa semua respons koping dapat dipilih dan mempunyai akibat baik positif maupun negatif.
Bandingkan respon adaptif dan maladaptif.
Identifikasi bersama kerugian respons koping yang maladaptif.
Identifikasi bersama keuntungan, atau “hasil” respons koping adaptif.
Bahas bagaimana hasil tersebut mendukung penggunaan respons koping adaptif selanjutnya.
Gunakan berbagai keterampilan terapeutik, seperti :
1.       Komunikasi fasilitatif.
2.       Konfrontasi suportif.
3.       Klarifikasi peran.
4.       Reaksi transferens dan kontertransferens dalam hubungan perawat-pasien.
5.       psikodrama



Tabel 1.4                    Intervensi Keperawatan terhadap perubahan konsep diri  Tingkat 4
Prinsip
Rasional
Intervensi Keperawatan
Tujuan : Membantu Pasien dalam Merumuskan Rencana Tindakan yang Realistik
Bantu pasien mengidentifikasi solusi alternatif.
















Bantu pasien mengkonsepualisasi tujuan yang realistik
Hanya setelah semua alternatif yang memungkinkan dievaluasi baru dapat terjadi suatu perubahan.














Penetapan tujuan harus mencakup jabaran yang jelas tentang perubahan yang diharapkan.
Bantu pasien memahami bahwa hanya dia yang dapat mengubah dirinya, bukan orang lain.
Jika pasien berpegang pada persepsi yang tidak konsisten, bantu pasien untuk melihat bahwa dia dapat mengubah :
1.       keyakinan atau ideal mendekati suatu kenyataan.
2.       Lingkungan membuatnya konsisten dengan keyakinan pasien.
Jika konsep diri tidak konsisten dengan perilaku, pasien dapat mengubah :
1.       Perilaku yang sesuai dengan konsep diri.
2.       Keyakinan yang melatar belakangi konsep diri termasuk perilaku.
3.       Ideal diri.
Tinjau bersama bagaimana pasien dapat lebih baik menggunakan sumber koping.

Dorong pasien untuk merumuskan tujuannya sendiri ( bukan tujuan anda ).
Bahas bersama konsekuensi yang bersifat emosional, praktikal dan realistik dari tiap tujuan.
Bantu pasien untuk menjabarkan secara jelas perubahan konkrit yang diinginkan.
Gunakan latihan peran, contoh peran, permainan peran, dan visualisasi jika sesuai.




Tabel 1.5                    Intervensi Keperawatan terhadap perubahan konsep Gangguan Citra Diri Tingkat 5
Prinsip
Rasional
Intervensi Keperawatan
Tujuan : Membantu Pasien agar Bertekat untuk Membuat Keputusan dan Mencapai Tujuannya Sendiri
Bantu pasien melakukan tindakan yang diperlukan untuk mengubah respons koping maladaptif dan mempertahankan respons koping yang adaptif.
Tujuan utama dalam meningkatkan penghayatan adalah membuat pasien mengganti respons koping yang maladaptif dengan yang lebih adaptif.
Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengalami suatu keberhasilan.
Dukung kekuatan, keterampilan, dan aspek yang sehat dari kepribadian pasien.
Dukung pasien untuk memperoleh bantuan (pekerjaan, finansial, pelayanan masyarakat ).
Gunakan kelompok untuk meningkatkan harga diri pasien.
Tingkatkan perbedaan diri pasien dalam keluarga.
Beri pasien waktu yang cukup untuk berubah.
Beri sejumlah dukungan yang sesuai dan positif untuk membantu pasien mempertahankan kemajuannya.



DAFTAR PUSTAKA
Meridean L. Maas, et al. 2011. ASUHAN KEPERAWATAN GERIATRIK : DIAGNOSIS NANDA, KRITERIA HASIL NOC, & INTERVENSI NIC. Jakarta : EGC.
Stuart, Gail Wiscarz. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar