Senin, 01 April 2013

Laporan Pendahuluan Infark Miokard Akut

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Seiring dengan keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional, telah mewujudkan hasil yang positif diberbagai bidang yaitu adanya kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama dibidang medis atau ilmu kedokteran sehingga dapat meningkatkan umur harapan hidup manusia (Nugroho Wahyudi, 2000) dan mengacu pada visi dan misi kesehatan yaitu menjadikan masyarakat Indonesia sehat 2010, perlu dilakukan upaya-upaya kesehatan salah satunya adalah pelayanan keperawatan. (Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan Ditjen Pelayanan Medis Depkes RI disajikan pada seminar keperawatan UNSRIT Mei, 2007).
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat-kiat keperawatan berbentuk bio, psiko, sosio dan spiritual yang komperhensif ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia (lokakarya nasional 1983, Kusnanto 2004).
Pelayanan keperawatan yang paling ideal adalah asuhan keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan. Asuhan keperawatan adalah suatu pemecahan masalah dinamis dalam usaha memperbaiki atau memelihara pasien sampai pada taraf optimum melalui pendekatan yang sistematis untuk mengenal dan membantu memenuhi kebutuhan khusus pasien (Doenges, 2000). Termasuk dalam memenuhi kebutuhan, khususnya pasien dengan gangguan sistem kardiovaskuler infark miokard akut.
Infark miokard akut adalah kematian jaringan otot miokard , merupakan sumbatan total pada arteri koronaria (Faqih Rahyudin,2007)
Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian dinegara maju. Tahun 2005 Di Amerika Serikat diperkirakan 12,4 juta orang menderita penyakit dan 1,1 juta orang terkena infark miocard acut. Tahun 2000, 16,7 juta penderita meninggal karena penyakit ini atau sekitar 30,3% dari total kematian diseluruh dunia. Sekitar 250.000 penderita meninggal dalam waktu 1 jam setelah timbul serangan, meski pelayanan kesehatan sudah sedemikian majunya. (http ://www.pdpersi.com di akses tgl 15 januari 2010)
Indonesia merupakan negara berkembang dimana prevelansi penyakit jantung dari tahun ke tahun semakin meningkat terutama infrak miocard acut. SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga) tahun 1992 mengukuhkan penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit yang masih menduduki presentase tertinggi yang menyebabkan kematian (33,2%), (Faqih Rahyudin,2007)
Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Menurut American Heart Association semakin banyak kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler dibandingkan dengan gabungan ketujuh penyebab kematian utama berikutnya. Hal ini menunjukkan terjadinya satu kematian akibat penyakit kardiovaskuler tiap 33 detik. Pencegahan primer-identifikasi dini dan modifikasi faktor resiko bagi timbulnya penyakit kardiovaskuler penting dilakukan untuk menurunkan angka mortalitas, morbiditas, dan angka kecacatan.
Salah satu penyakit kardiovaskuler adalah Iskemia yang berlangsung lebih dari 30-45 menit akan menyebabkan kerusakan sel ireversibel serta nekrosis atau kematian otot .Bagian miokardium yang mengalami infark atau nekrosis akan berhenti berkontraksi secara permanen (Sylvia Anderson dan Lorraine,2005).Infark miokard akut mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibart suplai darah yang tidak adekuat, sehingga aliran darah koroner kurang. Infark miokard akut adalah nekrosisi miokard akibat aliran darah ke otot jantung targanggu.Faktor-faktor yang menyebabkan Acute Myocardial Infarction adalah suplai darah oksigen ke miokard berkurang (aterosklerosis, spasme,arteritis,stenosis aorta, insufisiensi jantung, anemia, hipoksemia),curah jantung yang meningkat (emosi,aktivitas berlebih,hipertiroidisme), dan kebutuhan oksigen miokard meningkat ( kerusakan miokard, hpertropi miokard,hipertensi diastolik). Penyebab infark miokard yang jarang adalah penyakit vaskuler inflamasi, emboli (endokarditis, katup buatan),spasme koroner yang berat (misal setelah menggunakan kokain), peningkatan viskositas darah serta peningkatan kebutuhan O2 yang bermakna saat istirahat.

B.      Tujuan Penulisan
1.       Tujuan Umum
Mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada Tn. D dengan Infark Miokard Akut di Ruang ICCU Rumah Sakit Doris Sylavanus Palangka Raya.
2.       Tujuan Khusus
a.       Mampu melakukan pengakjian keperawatan pada Tn. D dengan Infark Miokard Akut.
b.      Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Tn. D dengan Infark Miokard Akut.
c.       Mampu membuat perencanaan keperawatan pada Tn. D dengan Infark Miokard Akut.
d.      Mampu melakukan pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn. D dengan Infark Miokard Akut.
e.      Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada Tn. D dengan Infark Miokard Akut.
C.      Manfaat Penulisan
1.       Bagi Peningkatan Kualitas Asuhan Keperawatan
Laporan Studi Kasus ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan asuhan jeperawatan dengan masalah Infark Miokard Akut.
2.       Bagi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ( IPTEK )
Diharapkan Laporan Studi Kasus ini, dapat menimbulkan ide-ide kreatif dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
3.       Bagi Institusi
a.       Rumah Sakit
Meningkatkan dan menyediakan sarana bahan bagi para Tenaga Kesehatan yang ada dalam rangka menunjang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Kompetensi yang ingin dicapai pada Proses Asuhan Keperawatan.
b.      Pendidikan
Sebagai tolak ukur kemampuan mahasiswa dalam penguasaan terhadap ilmu keperawatan, proses keperawatan, dan sistem dokumentasi lengkap. Menyediakan informasi nyata dan aktual tentang asuhan keperawatan terhadap Infark Miokard Akut.
4.       Bagi Profesi
Sebagai referensi bagi teman mahasiswa dan sejawat dalam mengembangkan pengetahuan dan sumber daya yang ada. Diharapkan mampu menciptakan tenaga kesehatan Keperawatan yang berkompeten baik dalam tindakan maupun dalam pengetahuan.


D.      Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah  ini ditempuh metode-metode tertentu untuk mengumpulkan beberapa data dan mengolah data tersebut. Untuk pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi yaitu mengumpulkan berbagai sumber yang memuat materi yang terkait dengan Infark Miokard Akut. Sumber tersebut melalui beberapa buku keperawatan dan juga melalui internet. Data yang telah diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode dengan jalan menyusun data atau fakta-fakta yang telah diperoleh secra sistematis dan menuangkannya dalam suatu simpulan yang disusun atas kalimat-kalimat.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Konsep Dasar
Pengertian
Infark Miokard Akut ( IMA ) adalah suatu keadaan dimana otot jantung tiba-tiba tidak mendapat suplai darah akibat penyumbatan mendadak arteri koroner oleh gumpalan darah karena pecahnya plak. ( Kabo, 2008 )
IMA adalah kematian sel-sel miokardium yang terjadi akibat kekurangan oksigen berkepanjangan. ( Corwin, 2009 )
Infark Miokard Akut adalah kematian jaringan miokard akibat oklusi akut pembuluh darah koroner. ( Suryono, Bambang dkk. 2005 : 120 )
Menurut Smeltzer dan Bare ( 2008 : 788 ) Infark Miokard Akut mengacu pada proses masuknya proses rusak jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang. Penyebab penurunan suplai darah mungkin akibat penyempitan kritis arteri koroner karena aterosklerosis atau penyumbatan total arteri oleh emboli atai trombus.


1.       Etiologi
Terlepasnya suatu plak aterosklerosis dari salah satu arteri koroner dan kemudian tersangkut dibagian hilir yang menyumbat aliran darah keseluruh miokardium yang diperdarahi oleh pembuluh tersebut, dapat menyebabkan infark miokardium. Infark miokardium juga dapat terjadi apabila lesi trombotik yang melekat ke suatu arte yang rusak menjadi cukup besar untuk menyumbat secara total aliran darah ke bagian hilir, atau apabila suatu ruang jantung mengalami hipertfrofi berat sehingga kebutuhan oksigen tidak dapat terpenuhi. ( corwin, 2000 ).
Infark miokard dapat disebabkan oleh :
a.       Penyempitan kritis arteri koroner,
b.      Oklusi arteri komplit,
c.       Syok hemoragik,
d.      Ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen,
e.      Stenosis aorta/aorta inufisiensi,
f.        Hipertensi,
g.       Lesi trombolik,
h.      Hipertrofi ruang jantung.
( Suryono, bambang dkk. 2005 : 119 )



2.       Patofisiologi
Menurut Smeltzer dan Bare (2002 : 7776-777) Aterosklerosis dimulai ketika kolesterol berlemak tertimbun di intima arteri besar. Timbunan ini dinamakan ateroma atau plaqul yang akan mengganggu absorpsi nutrien oleh sel-sel endotal yang menyusun lapisan dinding dalam pembuluh darah dan menyumbat aliran darah karena timbunan ini menonjol ke lumen pembuluh darah. Endotel pembuluh darah terkena akan mengalami nekrotik dan menjadi jaringan parut, selanjutnya lumen akan menjadi sempit dan kasar, akan cenderung terjadi pembentukan bekuan darah terjadi koagulasi intravaskuler.
Iskemia miokard bermanifestasi berupa angina pektoris yaitu dengan gejala perasaan tertekan dan penuh atau nyeri substernal. Ini akibat kurangnya oksigen untuk miokard agar dapat bekerja efektif, penyebabnya hampir selalu penyempitan yang disebabkan aterosklerosis, perubahan ini masih reversible dan fungsi sel-sel kembali normal bila oksigenasinya kembali mencukupi (Tambayong, 2000:90).
Infark miokardium jelas akan menurunkan fungsi ventrikel karena otot yang nekrosis kehilangan daya kontraksi sedangkan otot yang iskemia disekitarnya juga mengalami daya kontraksi.Secara fungsional infark miokardium akan menyebabkan perubahan-perubahan seperti pada iskemia :daya kontraksi menurun,gerakan dinding abnormal,perubahan daya kembang dinding ventrikel,pengurangan volume sekuncup,pengurangan fraksi injeksi,peningkatan volume akhir sistolik dan akhir diastolik ventrikel dan peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel kiri.(Price & Wilson “Patofisiologi” Ed:6,2005.


3.       Manifestasi Klinis
Walaupun sebagian individu tidak memperlihatkan tanda-tanda jelas infark miokardium (suatu serangan jantung tersamar), biasanya timbul manifestasi klinis yang bermakna:
a.       Nyeri dengan awitan yang (biasanya) mendadak, sering digambarkan memiliki sifat meremukan dan parah. Nyeri dapat menyebar kebagian atas tubuh mana saja, tapi sebagian besar menyebar ke lengan kiri, leher, atau rahang. Nitrat dan istirahat dapat menghilangkan iskemia di luar zona nekrotik dengan menurunkan beban kerja jantung.
b.      Timbul mual dan muntah yang mungkin berkaitan dengan nyeri yang hebat.
c.       Perasaan lemas yang berkaitan dengan penurunan aliran darah ke otot-otot rangka.
d.      Kulit yang dingin, pucat akibat vasokontriksi simpatis.
e.      Pengeluaran urin berkurang karena penurunan aliran darah ginjal serta peningkatan aldosteron dan ADH.
f.        Takikardia akibat peningkatan stimulasi simpatis jantung.
g.       Keadaan mental berupa rasa cemas besar disertai perasaan mendekati kematian. (Corwin, 2000).
AMI biasanya disertai nyeri dada substernum yang parah dan terasa menekan, yang mungkin menyebar keleher, rahang, epigastrium, bahu, atau lengan kiri. Pada sekitar 50% pasien, AMI didahului oleh serangan-serangan angina pektoris. Namun, berbeda pada nyeri dada angina pektoris, nyeri dada AMI biasanya berlangsung beberapa jam sampai hari dan tidak banyak berkurang dengan nitrogliserin. Nadi biasanya cepat dan lemah, dan pasien sering mengalami diaforesis. Sering timbul sesak dan hal ini diakibatkan oleh gangguan kontraktilitas miokardium yang iskemik, yang menyebabkan kongesti dan edema paru. Pada AMI masif yang mengenai lebih dari 40% ventrikel kiri, timbul syok kardiogenik. Pada sebagian kecil pasien (20% sampai 30%), AMI tidak menimbulkan nyeri dada. AMI “silent” ini terutama terjadi pada pasien dengan diabetes melitus dan hipertensi serta pada pasien berusia lanjut. (Kumar, Cortan, & Robins, 2007).


4.       Pathway
( terlampir )

5.       Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium :
a.       Creatinin Posfakinase
b.      SGOT
c.       Laju Endap Darah
d.      Leukosit
e.      Kolesterol
f.        Trigliserida
g.       Kardiak iso-enzim
h.      Analisa Gas Darah

Diagnostik :
a.       Elektrokardiogram ( EKG )
b.      Foto Thorax
c.       Tes Treadmill
d.      Echocardiography
e.      Angiografy coroner
f.        Multyslice Computed Tomografhy Scanning
g.       Cardiac Magnetic Resonance Imaging
h.      Radionuclear Medicine
i.         Vektocardiography
j.        Scintygraphy Talium
( Kabo, 2008 )



6.       Penatalaksanaan Medik / Terapi Pengobatan
a.       Bedrest total
b.      Diit makanan lunak / saring serta rendah garam ( bila gagal jantung ).
c.       Pasang infus Dekstrosa 5% untuk persiapan pemberian obat IV.
d.      Atasi nyeri :
1)      Morfin 2,5 – 5 Mg IV atau Petidin 25 – 50 Mg IM.
2)      Lain-lain : Nitrat, Antagonis Kalsium, dan Beta Bloker.
3)      Oksigen 2 – 4 liter / hari.
4)      Sedatif sedang seperti Diazepam 3 -4 x 2,5 Mg / oral. Pada insomnia dapat ditambah Flurazepam 15 – 30 Mg.
e.      Antikoagulan :
1)      Heparin 20.000 – 40.000 U/24 Jam IV, tiap 4 – 6 jam atau drip IV dilakukan atas indikasi.
2)      Asetakumoral dan atau Warparin.
3)      Streptokinase / Trombolisis.
f.        Pengobatan ditujukan sedapat mungkin memperbaiki kembali aliran pembuluh darah koroner. Bila ada tenaga terlatih, trombolisis dapat dibesrikan sebelum dibawa ke RS. Dengan trombolisis, kematian dapat diturunkan sebesar 40 %.
( Punsalan, 2009 )














B.      Asuhan Keperawatan
1.       Pengkajian
a.       Identitas

b.      Riwayat Kesehatan
1)      Riwayat Kesehatan Sekarang
2)      Riwayat Kesehatan Dahulu
3)      Riwayat Kesehatan Keluarga
4)      Riwayat Psikososial

c.       Pola Fungsi Kesehatan
1)      Pola Persepsi
2)      Pola Aktivitas – Latihan
3)      Pola Nutrisi
4)      Pola Sirkulasi
5)      Pola Eliminasi
6)      Pola Penafasan
7)      Pola Tidur – Istirahat
8)      Pola Kognitif
9)      Pola Toleransi
10)   Pola Persepsi Diri
11)   Pola Hubungan-Peran

d.      Observasi dan Pemeriksaan Fisik
1)      Keadaan Umum
2)      Tanda – tanda Vital

e.      Hasil Pemeriksaan Penunjang
1)      Laboratorium
2)      Diagnostik

f.        Terapi

2.       Diagnosa Keperawatan
a.       Nyeri akut berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri koroner.
b.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbanmgan antara suplai oksigen miokard dengan kebutuhan.
c.       Ansietas berhubungan dengan ancaman atau perubahan kesehatan.
d.      Resiko tinggi menurunnya curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuenasi, irama, konduksilektrikal.
e.      Resiko tinggi terhadap kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan ferfusi organ.



3.       Perencanaan dan Implementasi
Diagnosa
Tujuan- Kriteria
Intervensi
Rasional
Nyeri akut b/d iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri koroner.
Tujuan :
Nyeri dada hilang/terkontrol
Kriteria:
Klien menyatakan nyeri dada hilang /berkurang
Mendemonstrasikan tehnik penggunaan relaksasi.
Klien terlihat rileks.
Catat karakteristik nyeri, lokasi, intensitas, lamanya dan penyebaran.

Anjurkan kepada klien untuk melaporkan nyeri dengan segera
Berikan lingkungan yang tenang, aktivitas perlahan dan tindakan nyaman, dekati pasien, berikan sentuhan.
Bantu melakukan tehnik relaksasi.


Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal atau masker sesuai dengan indikasi

Kolaborasi :
Berikan obat sesuai dengan indikasi :
Antiangina ( nitroglyserin,)
Penyekat 8 ( contoh, atenolol ,Tonormin, pindolol, ( Visken ) propanolol ( inderal )




Analgesik, contoh morphin meperidin ( demerol

Penyekat saluran kalsium contoh, verafamil, ( calan )diltiazem ( prokardia )
Variasi pemampilan dan perilaku pasien karena nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian.
Nyeri berat dapat menyebabkan syok.

Menurunkan rangsangan eksternal,


Membantu dalam penurunan persepsi respon nyeri

Meningkatkan jumlah oksigen yang ada untuk pemakaian miokard sekaligus mengurangi ketidaknyamanan s/d iskemia.



Nitrat berguna untuk kontrol nyeri dengan efek vasodilatasi koroner.
Agen ke 2 untuk pengontrol nyeri melalui efek hambatan rangsanggsimpatis sehingga menurunkan TD.( sistolik ) Fibrilasi jantung,dan kebutuhan oksigen miokard .
Menurunkan nyeri hebat, memberikan sedasi, dan mengurangi kerja miokard.
Efek vasodilatasi dapat meningkatkan aliran darah koroner, sirkulasi kolateral dan menurunkan preload.
Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbanmgan antara suplai oksigen miokard dan kebutuhan
Tujuan :
Meningkatkan toleransi aktiviitas
Kriteria ;
Frekuensi jantung, irama dan tekanan darah dalam batas normal
Kulit hangat, merah muda dan kering.
Catat frekuensi jantung, irama dan perubahan TD., selama dan sesudah aktivitas

Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas , dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat.

Anjurkan menghindari peningkatan tekanan abdomen misal, mengejan saat defekasi



Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas , contoh bangun dari kursi, bila tak ada nyeri, ambulasi, dan istirahat selama 1 jam setelah makan.
Rujuk ke program rehabilitasi jantung..
Respon pasien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan penurunan oksigen miokard.
Menurunkan kerja  miokard/konsumsi oksigen

Dengan mengejan dapat mengakibatkan bradikardi, menurunkan curah jantung, dan takhicardia serta peningkatan TD
Aktivitas yang maju memberikan kontrol jantung, meningkatkan regangan dan mencegah aktovitas berlebihan.


Ansietas b/d ancaman atau perubahan kesehatan.
Tujuan
Ansietas hilang /berkurang
Kriteria :
Mengenal perasaannya
Dapat mengidentifikasi penyebab atau faktor yang mempengaruhi
nya.
Menyatakan ansietas berkurang /hilang.
Bantu klien mengekspresikan perasaan marah, kehilangan dan takut.
Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan, dampingi klien dan lakukan tindakan bila menunjukan perilaku merusak.

Hindari konfrantasi






Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktifitas yang diharapkan.
Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan ansietasnya.
Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat.

Kolaborasi : berikan anti cemas / hipnotik sesuai indikasi contohnya diazepam
Cemas berkelanjutan memberikan dampak serangan jantung selanjutnya.
Reaksi verbal/non verbal dapat menunjukan rasa agitasi, marah dan gelisah
Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerja sama dan mungkin memperlambat penyembuhan
Orientasi dapat menurunkan kecemasan.
Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kehawatiran yang tidak diekspresikan
Memberi waktu untuk mengekspresikan perasaan, menghilangkan cemas dan perilaku adaptasi.
Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan
Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d perubahan frekuensi, irama dan konduksi elektrikel.
Tujuan :
Penurunan curah jantung tidak terjadi.
Kriteria :
Stabilitas hemodinamik baik (tekanan darah dbn., curah jantung drn.intake dan output sesuai, tidak menunjukan tanda – tanda disritmia)
Auskultasi TD. Bandingkan kedua lengan, ukur dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri bila memungkinkan.


Evaluasi kualitas dan kesamaan nadi.


Catat terjadinya S3/S4.





Catat Murmur





Pantau frekuensi jantung dan irama


Berikan makanan kecil / mudah dikunyah, batasi asupan kafein.

Kolaborasi
Berikan O² tambahan sesuai indikasi
Pertahankan cara masuk heparin (IV) sesuai indikasi
Pantau data laboratorium enzim jantung, GDA. Dan elektrolit.
Berikan obat antidisritmia s/d indikasi.
Hipotensi dapat terjadi s/d disfungsi ventrikel, hipertensi juga fenomena umum b/d nyeri cemas pengeluaran katekolamin
Penurunan curah jantung mengakibatkan menurunnya kekuatan nadi.
S3 b/d gjk atau gagal mitral yang disertai infark berat.
S4 b/d iskemia, kekakuan ventrikel atau hypertensi pulmonal.
Menunjukan gangguan aliran darah dalam jantung,(kelainan katup, kerusakan septum, atau vibrasi otot papilar
Perubahan frekuensi dan irama jantung menunjukan komplikasi disritmia.
Makanan besar dapat meningkatkan kerja miokard.
Kafein dapat merangsang langsung ke jantung sehingga meningkatkan frekuensi jantung.
Meningkatkan kebutuhan miokard

Jalur yang paten pentying untuk pemberian obat darurat.

Enzim memantau perluasan infark, elektrolit berpengaruh terhadap irama jantung.
Resiko tinggi terhadap kelebihan volume cairan b/d penurunan ferfusi organ
Tujuan
Kelebihan volume cairan tidak terjadi
Kriteria :
TD.  Dbn.
Tidak ada edema, tidak ada distensi vena, paru bersih berat badan stabil.
Auskultasi bunyi nafas ( krekels )

Kaji adanya edema


Ukur intake dan output




Timbang berat badan




Pertahankan pemasukan total cairan 2000ml/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler.



 Kolaborasi
Berikan diet natrium rendah

Berikan diuretik, contoh : Lasix atau hidralazin, sprinolakton,hidronolakton
Pantau Kalium sesuai dengan indikasi
Indikasi edema paru, sekunder akibat dekompensasi jantung.
Curiga gagal kongestif/kelebihan volume cairan
Penurunan curah jantung, mengakibatkan gangguan ferfusi ginjal, retensi  natrium/air, dan penurunan haluaran urine.
Perubahan tiba-tiba dari berat badan menunjukan gangguan keseimbangan cairan
Memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa, tepai memerlukan pembatasan dengan adanya dekompensasi jantung
Natrium meningkatkan retensi cairan dan harus dibatasai.
Memperbaiki kelebihan cairan.


Hipokalemia dapat membatasi keefeftifan terapi.


4.       Evaluasi
Setelah tindakan pengkajian, merumuskan diagnosa, menentukan intervensi, serta melakukan tindakan maka langkah selanjutnya tahap evaluasi dilakukan. Tahap evaluasi dilakukan agar setiap tindakan yang dilakukan dapat diketahui sejauh mana tingkat keberhasilannya. Tahap ini juga dilakukan guna mengetahui tingkat kompetensi yang telah dicapai selama proses tindakan.  Kriteria hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut :
a.       Nyeri tidak ada atau hilang.
b.      Aktivitas mobilisasi meningkat.
c.       Perasaan cemas berkurang atau hilang.
d.      Peningkatan curah jantung.
e.      Resiko kelebihan volume cairan terhindari.




BAB III
TINJAUAN KASUS

A.      Tinajaun Kasus
FORMAT
ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Tanggal Pengkajian  :     05 Februari 2013                                       Pukul    :     09.30 WIB
Nama Mahasiswa     :     Brilian Samuel Dehes

A.      PENGKAJIAN
1.       Identitas
a.       Klien                                                                                     b.     Penanggung Jawab
Inisial Klien                 :     Tn. D                                                 Nama             :  Fatmawati
Umur                           :     65 Tahun                                         Umur              :  45 Tahun
Jenis Kelamin            :     Laki-laki                                            Pekerjaan     :  PNS
Suku/Bangsa             :     Dayak/Indonesia                         Pendidikan   :  S-1
Agama                         :     Kristen                                             Alamat           :  Jln. Hiu Putih VII B
Pekerjaan                  :     Pensiunan PNS                                                          No. 22
Pendidikan                :     SPG / SMA                                      Hubungan
Alamat                         :     Tewah                                              keluarga        :  Anak

Tanggal Masuk RS   :     01 Februari 2013                           Diagnosa Medis :
No. MR                        :     11.45.10                                           Infark Miokard Akut ( IMA )

2.       Riwayat Perawatan
a.       Keluhan Utama       :     Nyeri dada bagian kanan dan kiri, sesak nafas.
b.      Riwayat Penyakit
1)      Riwayat Kesehatan / Keperawatan Sekarang
Pasien MRS 4 hari yang lalu dengan keluhan nyeri dada dan sesak nafas. Pasien pernah dirawat di Puskesmas Tewah namun dirujuk karena keterbatasan alat dan oksigen serta Tekanan Darah Tinggi. Terpasang Infus NaCl 10 tetes/menit. Oksigen lewat Nasal Kanul 4 Liter/menit.

2)      Riwayat Kesehatan / Keperawatan Dahulu
Pasien menyatakan bahwa keluhan nyeri dada dan sesak nafas sudah muncul sejak 1 tahun yang lalu. Pasien hanya sesekali berobat ke Puskesmas dan lebih rutin menggunakan obat tradisional.

3)      Riwayat Kesehatan / Keperawatan Keluarga
Pasien menyatakan tidak ada keluarga yang memilki penyakit sama seperti yang dialami pasien.
                                               
Genogram Keluarga


 





                                                                                                                Keterangan :
                                                                                                                                                Perempuan
                                                                                                                                                Laki-laki
                                                                                                                                                Meninggal
                                                                                                                                                Pasien
                                                                                                                                                Serumah
                                                                                                                                                Bercerai
4)      Riwayat Kesehatan Lingkungan
Pasien menyatakan bahwa dirinya tinggal di lingkungan dengan kondisi yang baik.

5)      Riwayat Psikososial
Pasien tidak mengalami gangguan dalam hubungan keluarga. Pasien berinteraksi terhadap lingkungan dengan baik.

c.       Pola Fungsi Kesehatan
1)      Pola Persepsi – Pemeliharaan Kesehatan
Pasien memiliki lingkungan yang bersih. Lantai rumah terbuat dari kayu. Tersedia tempat pembuangan sampah dan WC di rumah pasien. Rumah selalu dobersihkan secara teratur.

2)      Pola Aktivitas – Latihan
Pasien tidak memiliki aktivitas yang berat / keras. Pasien jarang olahraga.

3)      Pola Nutrisi – Metabolik
Pasien mengalami penurunan nafsu makan.
Sebelum MRS : Makan 1 piring nasi + lauk. Minum 7 – 10 gelas per hari.
Sesudah MRS  : Makan ½ porsi yang diberikan. Minum 2 – 3 gelas per hari.

4)      Pola Eliminasi
Tidak ada gangguan pada pola eliminasi pasien.
BAK
Warna : Kuning, Bau : Amoniak, Frekuensi : 3 Kali / hari.
BAB
Warna :Kuning, Konsistensi : Lunak, Frekuensi : 1 kali / hari.
5)      Pola Tidur – Istirahat
Pasien tidur 6 – 8 jam / hari sebelum MRS. Sesudah MRS pasien hanya tidur 3 – 4 jam per hari.
6)      Pola Persepsi – Perseptual
Pasien tidak mengalami gangguan citra diri maupun sistem indera. Pasien merespon secara kooperatif.

7)      Pola Toleransi – Koping Sress
Pasien dapat menerima apa yang dialaminya sekarang, klien menghadapi masalah dan penyakitnya dengan baik.

8)      Pola Persepsi Diri / Konsep Diri
Pasien mengetahui penyakitnya cukup parah dan menyatakan akan berobat secara teratur serta akan mulai berolahraga.

9)      Pola Seksual – Reproduktif
Pasien tidak mengalami gangguan pada pola seksual dan reproduktif.

10)   Pola Hubungan – Peran
Pasien memiliki hubungan yang baik terhadap lingkungan dan keluarga. Pasien berperan sebagai kepala rumah tangga dan seorang ayah.

11)   Pola Nilai dan Keyakinan
Pasien menyatakan memiliki kepercayaan dan berjanji akan merubah pola hidup dengan olahraga ringan secara teratur dan menghindari konsumsi daging.

d.      Observasi dan Pemeriksaan Fisik
1)      Keadaan Umum           :     Pasien tampak lemah, Kesadaran Compos Mentis ( CM ),
                                                  Terpasang Infus NaCl 10 Tetes / menit di tangan kiri.

2)      Tanda – tanda Vital     :     TD : 104/64 mmHg,   N : 70 x/m ,   S : 36,2 °C,   RR : 26 x/m.

3)      Pemeriksaan Kulit, Rambut, dan Kelenjar Getah Bening
Kulit berwarna sawo matang, turgor kulit baik, tidak ada edema dan asites. Rambut lurus dan lembab. Tidak ada gangguan / pembengkakkan pada kelenjar getah bening.

4)      Pemeriksaan Kepala dan Leher
Bentuk kepala oval. Ada bekas luka 6 jahitan pada kepala bagian kiri dan 14 jahitan pada kepala bagian kanan. Tidak ada cacat atau gangguan pada leher.

5)      Pemeriksaan Dada
Bentuk dada simetris. Pola nafas normal setelah 2 hari MRS. Sebelum MRS pasien mengaku sesak nafas. ( Normal frekuensi nafas : 16 – 20 kali/menit ).
Bunyi jantung I : Lup
Bunyi jantung II : Dup

6)      Pemeriksaan Abdomen
Bentuk dan ukuran perut normal. Tidak ada nyeri tekan. Tidak ada bising usus. Tidak ada asites.

7)      Pemeriksaan Anggota Gerak dan Neurologis
Respon Motorik                 :        6  ( menurut perintah )
Respon Verbal                    :        5  ( orientasi baik )                                Jumlah : 15
Respon Membuka Mata :        4  ( spontan )

e.      Hasil Pemeriksaan Penunjang
1)      Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Tanggal 02 Februari 2013
Glukosa S           :     253      ( N : < 200 ),              Trigliserida    :     54        ( N : < 165 ),
Glukosa N          :     189      ( N : 65 – 110 ),        HDL-CHOL     :     94        ( N : < 180 ),
Glukosa PP        :     217      ( N : < 140 ),              SGOT              :     90        ( N : < 31°C, 37°C )
Asam Urat          :     2,8          ( N : 4 – 7,0 ),        SGPT               :     60        ( N : < 42°C, 37°C)
Cholesterol        :     168      ( N : < 200 ),              Creatinin       :     0,72    ( N : 0,17 – 1,5 ).

2)      Pemeriksaan Diagnostik
EKG dan Foto Thorax.

f.        Terapi
Oksigen 4 Liter/Menit,                                                  Vaclo Tablet 1 x 1,              Lipnoav 2 x 1,
Infus NaCl 500cc/24 Jam,                  Aspirel Tablet 1 x 1,                     Sucralfat 3 x 1 SM,
Injeksi Ranitidin 2 x 1 ampul,          Suenalfar 3 x 1 SM,                      Codipron k/p
Simvastatin 20mg 1 x 1,                     I S D N 3 x 1.

Nama dan Tanda Tangan Mahasisa


                                                                                                                                                    Brilian Samuel Dehes
                                                                                                                                        NIM. PO. 62. 20. 1. 11. 006



B.      Analisis Masalah

Data Fokus
( Subyektif dan Obyektif )
Masalah
Kemungkinan Penyebab
Data Obyektif :
-         TTV :
TD : 104/64 mmHg
N   : 70 kali / menit
S    : 36,2 °C
RR : 26 kali/menit

-         Nyeri dada
-         Skala nyeri 4 ( 1 – 10 )

Data Subyektif :
-          Pasien menyatakan nyeri pada bagian dada kanan dan kiri.
-          Pasien menyatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk.





Data Obyektif :
-          Sesak nafas ( dispnea )
-          Oksigen 4 Liter/menit
-          Posisi semifowler
-          RR : 26 kali / menit

Data Subyektif :
-          Pasien menyatakan sesak nafas saat melakukan aktivitas yang berat.








Nyeri




















Gangguan Pertukaran
Gas
Kurang Suplai Oksigen ke Infark Miokard



















Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif




C.      Diagnosa Keperawatan

No.
Diagnosa Keperawatan ( Secara Prioritas )

1.

2.

Nyeri berhubungan dengan kurang suplai oksigen ke infark miokard.

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan bersihan jalan nafas tidak efektif.

















No
Diagnosa
Keperawatan
Tujuan dan
Kriteria Hasil
Intervensi Keperawatan
Rasionalisasi
Nama dan
Paraf
1.













2.
Diagnosa I













Diagnosa II
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 8 jam diharapkan nyeri berkurang / hilang dengan Kriteria Hasil :
1.       Tidak ada nyeri dada
2.       Pasien tidak gelisah








Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 8 jam diharapkan sesak nafas berkurang / hilang dengan kriteria hasil :
1.       Tidak ada sesak nafas
2.       Respirasi 16 – 20 x / menit
Mandiri :
1.       Kaji TTV pasien
2.       Observasi skala nyeri.
3.       Observasi jenis nyeri.
4.       Kaji keluhan pasien terhadap lokasi nyeri.
5.       Berikan posisi semifowler.



Penkes :
1.       Ajarkan teknik relaksasi


Mandiri :
1.       Hitung RR per menit pasien.
2.       Kaji pola nafas
3.       Berikan posisi semifowler
4.       Observasi kemampuan ekspirasi maksimal.



Kolaborasi :
1.       Berikan terapi oksigen 4 Liter/menit.

Penkes :
1.       Ajarkan nafas dalam dan batuk efektif.

Mandiri :
1.       Mengontrol perkembangan kesehatan pasien.
2.       Menentukan skala nyeri.
3.       Mengobservasi jenis nyeri.
4.       Mengkaji penyebaran lanjutan nyeri.
5.       Memberikan rasa aman dan nyaman.

Penkes :
1.       Mengalihkan rasa nyeri.


Mandiri :
1.       Menentukan perbandingan dengan kondisi abnormal.
2.       Mengkaji pola pernafasan.
3.       Memberikan rasa aman dan nyaman.
4.       Mengobservasi kemampuan ekspirasi maksimal paru-paru.

Kolaborasi :
1.       Membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.

Penkes :
1.       Mengurangi sesak nafas dan mengeluarkan sekret.

D.       Intervensi Keperawatan
E.       Implementasi
No. Diagnosa
Keperawatan
Tanggal dan
Jam
Pelaksanaan
Evaluasi Tindakan / Respon Pasien
Nama dan
Paraf
Diagnosa I









Diagnosa II
05 Februari 2013
09.30 WIB








05 Februari 2013
10.30 WIB
1.       Menghitung TTV
2.       Memberikan posisi semifowler
3.       Memberikan pendidikan kesehatan tentang mobilisasi dan hidup sehat.
4.       Mengobservasi keadaan lokasi nyeri.
5.       Mengkaji pola penanganan pasien terhadap nyeri.



1.       Menghitung RR per menit pasien
2.       Mengkaji pola nafas pasien
3.       Mengajarkan pasien latihan nafas dalam.
4.       Memberikan pendidikan kesehatan mengenai penanganan sesak nafas.
5.       Melatih pasien mobilisasi ringan.
1.       TD : 104/64 mmHg, N : 70 x/menit,
S : 36,2 °C,  RR : 26x/menit.
2.       Pasien merasa nyaman.
3.       Pasien menyatakan mengetahui pola hidup sehat.
4.       Nyeri pada bagian dada kanan dan kiri.
5.       Pasien menyatakan mengalihkan nyeri dada dengan cara duduk di kursi.


1.       RR : 26 x/menit.
2.       Pasien bernafas dengan perut.
3.       Melatih pasien mengatasi sesak nafas.
4.       Pasein menyatakan akan menerapkan posisi duduk saat sesak nafas.
5.       Pasien mampu berjalan keliling lingkungan sekitar.




F.       Evaluasi
Nomor
Diagnosa
Tanggal dan
Jam
Catatan Perkembangan
( SOAP / SOAPIER )
Nama dan
Paraf
Diagnosa I













Diagnosa II
05 – 02 – 2013
09.30 WIB












05 – 02 – 2013
10.30 WIB
S.       Klien menyatakan nyeri pada dada bagian kanan dan kiri

O.     Pasien tampak lemah, tidak mampu tidur terlentang.
TD : 104/64 mmHG
S : 36, 2 °C
N : 70 x/menit
RR :26 x/menit

A.      Masalah belum teratasi

P.      Lanjutkan intervensi


S.       Klien menyatakan sesak nafas saat tidur terlentang.

O.     RR : 26 x/menit
Pasien tampak sesak nafas.

A.      Masalah belum teratasi

P.      Lanjutkan intervensi


Diagnosa I












Diagnosa II
06 – 02 – 2013
09.00 WIB











06 – 02 – 2013
09.00 WIB

S.       Klien menyatakan nyeri telah berkurang

O.     TD : 110/70 mmHg
N : 62 x/menit
S : 36 °C
RR : 22 x/menit
Pasien tampak tenang.

A.      Masalah teratasi

P.      Intervensi selesai/pasien pulang.


S.       Klien menyatakan sudah tidak sesak nafas

O.     RR : 22 x/menit
Pasien tampak tenang, tidak tampak sesak nafas.

A.      Masalah teratasi

P.      Intervensi selesai/pasien pulang.



B.      Pembahasan
1.       Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengobservasi dan mengkaji data-data yang aktual terhadap pasien. Pengkajian keperawatan pada seluruh tingkat analisis ( individu, keluarga, dan komunitas ), terdiri dari data subjektif dari seorang atau kelompok dan data obyektif yang diperoleh dari hasil tes diagnostik dan sumber-sumber lain. Pengkajian individu terdiri dari riwayat kesehatan ( data subjektif ) dan pengkajian fisik ( data objektif ) ( Weber dan Kelly, 2007 ). Pengkajian keluarga terdiri dari kelengkapan informasi spesifik dari keluarga ( data subyektif ) dan hasil observasi interaksi keluarga ( data objektif ) ( Weber dan Leahey, 2005 ).
Sedangkan pengkajian komunitas terdiri dari kelengkapan informasi dari pemberi informasi kunci di dalam komunitas ( data subyektif ) dan data statistik ( data objektif ) ( Anderson dan McFarland, 2006 ). Kerangka pengkajian keperawatan yang telah secara luas digunakan untuk menghasilkan diagnosis keperawatan yang akurat adalah kerangka pola kesehatan fungsional ( Gordon, 2007 ). Kerangka ini mencakup 11 pola individu, keluarga dan komunitas.
Dalam pengkajian pada kasus Tn. D, penulis melakukan pengkajian dengan metoda observasi, wawancara dan diagnostik. Penulis menggunakan konsep aktual, yaitu menggunakan data-data terbaru pasien yang kemudian dikoordinasikan dengan tahap keperawatan lainnya. Kesulitan yang didapatkan dalam proses pengkajian ini adalah minimnya bahan berupa data ataupun buku mengenai Infark Miokard Akut yang dinilai masih belum memenuhi kebutuhan penulis. Kemudahan dalam pengkajian ini adalah terjalinnya kerjasama yang baik antara perawat dan pasien dalam hal pengkajian sehingga sedikit banyak telah membantu dalam melengkapi proses pengkajian.


2.       Diagnosa Keperawatan
Pada respon manusia, ada hal yang sangat bertumpang tindih untuk mendiagnosis dan banyak faktor penting, misalnya budaya yang dapat mengubah perspektif tentang diagnosis telah memverifikasi banyak penelitian bahwa interpretasi terhadap kasus klinis memiliki potensi kurang akurat dari yang diindikasikan oleh data ( Lunney, 2008 ). Diagnosa keperawatan adalah suatu proses dimana semua data yang ada dari tahap pengkajian dipilah kedalam analisis data kemudian ditentukan prioritas masalah yang ada, selanjutnya dari prioritas yang ada dirumuskanlah diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas ( Problem, Etiologi, Syntom ). ( NANDA, 2010 )
Dalam kasus Tn. D penulis memilah antara diagnosa proritas dan non prioritas. Penulis mengangkat Nyeri dan Gangguan Pertukaran Gas sebagai prioritas yang ditemukan pada pasien dana diangkat dalam asuhan keperawatan. Kesulitan dalam perumusan diagnosa adalah terbatasnya sumber daya ilmu pengetahuan mengenai Infark Miokard Akut. Kemudahan yang ditemukan adalah adanya kerjasama dari Pembimbing RS Doris Sylvanus dalam membantu membimbing penulis menentukan diagnosa yang akan diangkat kedalam asuhan keperawatan.


3.       Intervensi Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang valid dan akurat menentukan sensitivitas perawat tentang hasil yang diharapkan. Hasil yang diharapkan tersebut menjadi petunjuk dalam menyeleksi intervensi yang mungkin menghasilkan efek pengobatan yang diharapkan. Intervensi keperawatan merupakan tahap dimana perawat akan secara kritis menentukan rencana tindakan keperawatan secara prioritas terhadap pasien, yang kemudian mejadi tolak ukur suatu asuhan keperawatan. Secara garis besar intervensi adalah tahap kritis dimana perawat diminta untuk menentukan rencana apa yang akan diberikan, kemudian dari semua rencana itu haruslah bekejasama terhadap tenaga kesehatan lain guna mendapatkan hasil yang maksimal ( Johnson et al, 2006 ).
Dalam tahap perencanaan pada kasus Infark Miokar Akut pada Tn. D , penulis menggunakan perencanaan yang bersifat prioritas yang digunakan untuk mengurangi/menghilangkan keluhan utama pada pasien. Kesulitan pada tahap ini adalah terbatasnya sarana dan prasarana yang ada guna menunjang tindakan intervensi keperawatan ini. Kemudahan yang ditemukan adalah adanya kolaborasi yang baik antara penulis dan Perawat Senior di Ruang ICCU dalam menuntun penulis guna menetapkan perencanaan yang dinilai sesuai.



4.       Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah tahap final dari sebuah asuhan keperawatan sebelum evaluasi. Pada tahap ini semua rencana tindakan yang prioritas dan non prioritas akan diterapkan dan dilaksanakan terhadap pasien. Sekali lagi dalam tahap ini dituntut sikap kompeten dari tenaga kesehatan guna mendapatkan hasil memuaskan dan maksimal dari tahap pengkajian, perumusan diagnosa hingga intervensi yang sudah ditetapkan ( Crosseti dan Saurin, 2006 ).
Dalam tahap ini kesulitan yang ada adalah ada beberapa rencana tindakan non prioritas yang belum terlaksana atau belum mendapatkan hasil yang memuaskan dikarenakan keterbatasan waktu keperawatan. Kemudahan yang didapatkan pada tahap ini adalah adanya kerjasama dari CI dalam melakukan tindakan yang dinilai perlu dan prioritas.


5.       Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dimana tindakan mulai dari pengkajian hingga pelaksanaan akan dilakukan penilaian pencapaian tingkat keberhasilannya. Pada tahap semua tindakan akan dikembangkan guna mengetahui letak kekurangan dan kelebihan pada asuhan keperawatan. Tingkat keberhasilan yang tinggi serta kemajuan dalam pola perubahan kesehatan merupakan hasil yang paling diharapkan oleh tenaga kesehatan  ( Minthorn, 2006 ).
Pada tahap ini penulis telah melakukan penilaian atas kinerja yang dicapai dan masuk dalam kategori memuaskan. Tahap pengkajian hingga pelaksanaan telah sedikit banyak membantu pasien dalam meningkatkan pola kesehatannya.
Pada tahap ini tidak ditemukan kesulitan. Kemudahan yang didapatkan adalah adanya bantuan oleh perawat Ruang ICCU dalam hal evaluasi hasil kinerja yang telah dicapai.





BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.      Kesimpulan
IMA (infark miokard akut) Merupakan salah satu penyakit yang di akibatkan karena berkurangnya suplai oksigen kejaringan .sehingga kematian sel-sel mikardium yang terjadi akibat kekurangan oksigen berkepanjangan .
Selain itu ,serangan jantung terjadi jika ada suatu sumbatan pada arteri koroner menyebabkan terbatasnya atau terputusnya aliran darah kesuatu bagian dari jantung .dimana arteri koroner kiri memperdarahi sebagian besar ventrikel kiri, septum dan arteri kiri serta arteri kanan memperdarahi sisi diafragmatik ventrikel kiri sedikit bagian posterior septum dan vetrikel serta antrium kanan .
Akan tetapi , IMA (infark miokard akut) bisa diatasi .apabila ,perawat atupun tim medis segera melakukan tindakan kepada kliennya untuk cepat tanggap terhadap gejala-gejala yang ditimbulkan dalam IMA ini .


B.      Saran
Sebaiknya , untuk menghindari penyakit IMA ini .maka hindarilah hal-hal yang dapat menyebabkan fungsi otot jantung terganggu ,dengan melakukan pola nafas efektif dengan baik karena penyakit ini cukup membahayakan bagi tubuh dalam menjalankan aktivitas sehari-hari .









Daftar Pustaka

Corwin, J Elisabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
NANDA. 2010. Nursing Diagnoses : definitions and classification. Jakarta : EGC
Price and Wilson. 2005. Patofisiologi. Edisi 6. Jakarta : EGC.
Smeltzer and Bare. 2008. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Suryono, Bambang dkk. 2005. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : EGC.
WWW. Us. Elsevierhealth. Com. 2004. Nursing Diagnosis : A Guide to Planning Care. Fifth Edition.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar